MAIN HATI : PART 2

ANTARA ISTRI, MERTUA DAN IPAR : PART #3

 PART #3 : Penghinaan Sonya

"Jangan langsung menolak, Andi. Coba pikirkan dulu tawaran Mamah. Mamah hanya ingin membantu menyelesaikan masalah keperkasaanmu yang sedang menurun itu. Kalau kamu butuh bantuan atau sekadar ingin bercerita, jangan sungkan. Ceritalah pada Mamah. Mamah akan menjadi pendengar yang baik untukmu. Kalau begitu, Mamah ke kamar dulu, ya."



Setelah mengucapkan kata-kata itu, Mayang berpamitan dan meninggalkan Andi yang masih duduk termenung di meja kerjanya. Wajah pria itu tampak dipenuhi berbagai macam pikiran yang saling bertabrakan.

Tak lama kemudian, Andi akhirnya menyelesaikan pekerjaannya. Ia merapikan berkas-berkas di atas meja, mematikan komputer, lalu melangkah perlahan menuju kamarnya. Tubuhnya terasa lelah, tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh ucapan Mayang yang terus terngiang di benaknya. Dengan perasaan yang bercampur aduk, ia merebahkan tubuh di atas ranjang, berharap tidur dapat menenangkan isi kepalanya.

Keesokan harinya, sinar matahari pagi mulai menembus celah-celah gorden kamar.

"Sayang... sayang, bangun. Sudah pagi. Apa kamu tidak akan berangkat kerja?" ucap Andi sambil menggoyangkan pelan bahu Sonya yang masih terlelap di atas kasur.

"Hmm... sebentar, Mas. Sepuluh menit lagi, ya. Mas sarapan duluan saja," jawab Sonya dengan nada ketus. Matanya masih terasa berat untuk dibuka, sementara perasaannya belum sepenuhnya membaik.

Andi hanya menghela napas pelan. Ia menyadari bahwa sikap dingin Sonya masih dipengaruhi oleh kejadian semalam. Kekecewaan istrinya belum juga mereda, dan hal itu membuat suasana di antara mereka terasa canggung.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Andi berdiri dari sisi tempat tidur. Ia menatap Sonya sejenak sebelum berbalik meninggalkan kamar. Di dalam hatinya, ia berharap masalah yang sedang mereka hadapi dapat segera menemukan jalan keluar, meskipun hingga saat ini ia sendiri masih belum tahu harus memulai dari mana.

Baca juga : Kesucianku telah direnggut ayah tiriku

andi pun bergegas keluar dari kamarnya menghampiri meja makan untuk sarapan pagi sebelum dia berangkat kerja. "sudah bangun nak, mana sonya?" tanya mayang kepada andi karena terlihat istrinya itu tidak ikut keluar bareng dari kamar untuk sarapan pagi, "sonya sebentar lagi keluar kamarnya mah" jawab andi kepada mayang. 

Andi pun melangkah menuju ruang makan dan duduk di salah satu kursi yang menghadap meja. Di sana, Stella ternyata sudah lebih dulu menikmati sarapan paginya.

Masih mengenakan pakaian tidur, Stella tampak santai menyantap makanannya sambil sesekali memainkan ponselnya. Tanpa sengaja, pandangan Andi tertuju pada sebuah tanda kemerahan di sisi leher Stella.

"Hah... apa Stella sudah punya pacar?" batin Andi, merasa sedikit terkejut.

Rasa penasarannya membuat Andi beberapa kali melirik ke arah Stella. Namun setiap kali Stella mengangkat wajahnya, Andi segera mengalihkan pandangan agar tidak ketahuan sedang memperhatikannya. Berbagai dugaan mulai bermunculan di benaknya, tetapi ia memilih untuk tetap diam dan menikmati sarapannya tanpa mengajukan pertanyaan apa pun.

Sementara itu, Stella tampak sama sekali tidak menyadari tatapan Andi. Ia tetap bersikap santai, seolah pagi itu tidak ada sesuatu yang berbeda.

"Kenapa, Mas? Kok dari tadi lihat-lihat aku? Memangnya ada yang aneh di wajahku?" tanya Stella setelah menyadari Andi beberapa kali mencuri pandang ke arahnya.

Andi yang sedikit gugup segera mengalihkan perhatian. "Nggak, Dek. Itu... ada nasi yang menempel di bibirmu."

"Hah? Di mana, Mas?" Stella spontan mengusap bibirnya dengan telapak tangan, tetapi butiran nasi itu rupanya masih belum terangkat.

"Itu... masih ada sedikit," ujar Andi pelan.

Melihat Stella masih kebingungan, Andi pun mendekat. Dengan hati-hati, ia mengulurkan tangan dan mengambil butiran nasi yang masih menempel di sudut bibir Stella. Dalam posisi dekat, Andi tak sengaja melihat buah dada milik stella. "hah, milik stella lebih bulat dibanding dengan milik sonya, namun tetap masih lebih besar punya mamah mertuanya"

Saat berada begitu dekat, Andi sempat merasa canggung dan segera mengalihkan pandangannya agar tidak membuat situasi menjadi semakin kikuk.

"Entah kenapa, akhir-akhir ini aku jadi mudah salah tingkah," gumam Andi dalam hati, menyadari pikirannya sedang tidak setenang biasanya.

"Oh... iya. Makasih ya, Mas," ucap Stella sambil tersenyum tipis. Wajahnya tampak sedikit memerah karena malu setelah Andi membantunya mengambil butiran nasi yang menempel di bibirnya.

Andi hanya membalas dengan anggukan kecil sebelum kembali ke tempat duduknya. Sesaat, suasana di meja makan berubah menjadi hening. Keduanya sama-sama melanjutkan sarapan, meski sesekali saling melempar pandang dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Baca juga : Mertuaku adalah ayah dari anak ku

tak lama kemudian sonya pun keluar dari kamarnya "mas, nanti aku ikut sama kamu yah ke toko, aku lagi males bawa mobil" sahut sonya kepada andi, "baik sayang nnti mas antar kamu dulu ke toko bunga sebelum berangkat ke kantor" jawab andi kepada sonya dengan hati sedikit senang karena sonya mau menyapa nya terlebih dahulu dan meminta berangkat kerja bareng. setelah sarapan, andi dan sonya pun berangkat kerja bersama sama.

tepat pukul 7 malam andi sampai dirumah, "sudah pulang nak, ko pulangnya telat" sahut mayang menyambut kedatangan andi yang sedang duduk di kursi teras depan rumahnya, "iya mah, tadi ada kerjaan nanggung yang harus beres hari ini, oh iya sonya sudah pulang mah? soalnya tadi dia bilang pulangnya mau naik taksi saja" jawab andi kepada mayang "sonya sudah pulang nak, ada di kamarnya" jawab mayang kepada andi, "baik mah aku masuk dulu ya" pamit andi kepada mayang masuk menuju kamarnya.

Baca juga : ANTARA ISTRI, MERTUA DAN IPAR : PART #1

ketika andi membuka pintu kamar "sonya apa-apan kamu.?" dengan nada tinngi dan marah andi membentak sonya, bagaimana tidak, ketika andi memasuki kamar, ia melihat sonya tengah asyik bermain dengan dildo yang baru saja ia beli, berbagai ukuran dan warna sonya membeli dildo untuk memuskan nafsu seks nya.

"lihat mas, aku lebih puas dan menikmati bermain dengan dildo dildo ini dibandingkan dengan penismu yang loyo itu" ejek sonya kepada andi dengan terus mendorong masuk keluar dildonya itu di dalam lobang kenikmatan milik sonya dengan ekspresi mata merem melek, bibir depan yang digigit sedikit menandakan bahwa dia sangat menikmati permainan dengan dildo nya itu. "lihat lah mas bagaimana dildo dildo ini berhasil memuaskanku, berkali kali aku bisa klimaks, berbeda denganmu jangankan berkali kali, satu kali pun aku belum pernah klimaks ketika bermain bersama penismu yang loyo itu"

Dengan wajah memerah, Andi melangkah keluar dari kamar. Berbagai emosi bercampur menjadi satu—amarah, kekesalan, dan rasa bersalah—hingga membuat pikirannya terasa semakin kalut.

Langkahnya membawanya ke ruang keluarga. Di sana, Mayang tampak sedang duduk santai di atas sofa sambil menonton televisi. Mendengar suara langkah kaki, Mayang menoleh dan mendapati Andi berdiri tak jauh darinya dengan raut wajah yang terlihat begitu gelisah.

Melihat perubahan ekspresi Andi, Mayang segera mengecilkan volume televisi. Tatapannya penuh tanda tanya, seolah menyadari bahwa sesuatu telah terjadi, meski ia belum mengetahui apa yang sebenarnya sedang dipikirkan oleh Andi.

"Mah... tolong bantu aku, Mah, buat kejantanan ku menjadi perkasa dan tidak loyo lagi" ucap Andi dengan napas tersengal. "Aku ingin kembali percaya diri. Aku sudah tidak tahan dengan keadaan seperti ini."

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Nada bicaranya terdengar tergesa-gesa, seolah beban yang selama ini dipendam akhirnya tumpah begitu saja.

Mayang yang sedang duduk di sofa menoleh dengan raut wajah terkejut. Ia segera mematikan televisi dan mengalihkan seluruh perhatiannya kepada Andi.

"Andi... ada apa sebenarnya?" tanyanya lembut.

Andi menundukkan kepala. Wajahnya memerah, bukan hanya karena amarah, tetapi juga karena rasa malu dan bersalah. Pertengkarannya dengan Sonya beberapa saat sebelumnya masih terus terbayang di benaknya. Ia merasa gagal sebagai suami, dan perasaan itu membuat emosinya semakin tidak terkendali.

"Aku benar-benar bingung harus bagaimana, Mah," lanjut Andi dengan suara yang mulai bergetar. "Aku cuma ingin memuaskan nafsu seksualnya Sonya."

Mayang memandang Andi dengan penuh rasa iba. Sebagai seorang mertua, ia dapat melihat betapa berat beban yang sedang dipikul menantunya itu. Tanpa langsung memberikan jawaban, ia hanya menepuk pelan bahu Andi, memberinya isyarat agar lebih tenang sebelum mereka membicarakan masalah itu lebih jauh.

Baca juga : ANTARA ISTRI, MERTUA DAN IPAR : PART #4 


Komentar