- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
PART 5 : RACIKAN
Andi hanyut dalam kehangatan malam itu. Perasaan yang selama ini belum pernah ia alami perlahan memenuhi relung hatinya, membuatnya sulit berpikir jernih dan hanya mampu menikmati setiap pijatan yang dilakukan oleh Mayang.
"Baik, Andi. Sudah cukup untuk malam ini. Sekarang kamu kembali ke kamarmu sebelum Sonya bangun," ujar Mayang lembut, memecah lamunan Andi yang masih tenggelam dalam perasaan campur aduk yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Baca juga : ANTARA ISTRI, MERTUA DAN IPAR : PART 1
Andi tersentak pelan. Ia mengedipkan mata beberapa kali, seolah baru kembali ke kenyataan. Tanpa banyak bicara, ia mengangguk pelan, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya.
"Iya, Mah," jawabnya lirih sambil memakai baju.
Dengan langkah perlahan, Andi berbalik meninggalkan ruangan. Sementara itu, Mayang hanya memandang kepergiannya sesaat sebelum mengembuskan napas panjang, lalu kembali membereskan beberapa barang yang masih berserakan.
Saat Andi perlahan membuka pintu kamar Mayang, langkahnya langsung terhenti. Kedua matanya membelalak ketika melihat Sonya sudah berdiri tepat di depan pintu, menatapnya tanpa berkedip.
Wajah Andi seketika memucat. Jantungnya berdegup kencang, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuatnya semakin gugup.
"Ka-kamu... sedang apa di sini, Dek?" tanya Andi terbata-bata, berusaha terdengar tenang meski suaranya bergetar.
Baca juga : ANTARA ISTRI, MERTUA DAN IPAR : PART 2
Sonya tidak langsung menjawab. Tatapannya bergantian mengarah kepada Andi dan pintu kamar Mayang yang baru saja terbuka. Ekspresinya sulit ditebak, membuat suasana di lorong rumah mendadak terasa mencekam.
Andi menelan ludah. Jemarinya tanpa sadar mengepal, menunggu jawaban dari sang istri sambil berharap ia tidak salah paham dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Aku haus, Mas. Mau nyuruh kamu ambil minum, tapi pas aku bangun kamu nggak ada di kasur. Jadi aku keluar ambil minum sendiri." Sonya menatap Andi lekat sebelum melanjutkan, "Tapi... kamu habis ngapain keluar dari kamar Mamah, Mas?"
Pertanyaan itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Andi terpaku. Dadanya terasa sesak, sementara jantungnya berdegup semakin kencang. Berbagai jawaban berputar di kepalanya, tetapi tak satu pun terasa meyakinkan.
Ia membuka mulut, namun tak ada kata yang keluar. Tatapan Sonya yang penuh rasa ingin tahu membuatnya semakin gugup. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, meski udara malam terasa cukup sejuk.
Baca juga : KESUCIANKU DIRENGGUT AYAH TIRIKU
"Aku..." gumamnya pelan, berusaha mencari alasan yang masuk akal.
"Tadi Mamah habis mijitin suamimu, Sonya."
Suara Mayang tiba-tiba terdengar dari dalam kamar, memecah keheningan di antara Andi dan Sonya. Tak lama kemudian, Mayang melangkah keluar sambil menatap putrinya dengan ekspresi tenang, seolah tak terjadi sesuatu yang aneh.
"Kamu itu jadi istri nggak pernah perhatian sama suamimu," lanjut Mayang dengan nada lembut, namun terdengar seperti sedang menegur. "Andi pulang kerja sampai larut malam. Badannya pegal-pegal, bahkan tadi mulai masuk angin. Kebetulan Mamah belum tidur, jadi sekalian Mamah pijitin dan olesin minyak biar badannya lebih enakan."
Andi yang sedari tadi diliputi rasa cemas akhirnya mengembuskan napas lega. Penjelasan Mayang terdengar begitu wajar hingga membuat beban di dadanya sedikit berkurang.
Sonya menoleh ke arah suaminya, lalu kembali menatap sang ibu. Raut wajahnya yang semula dipenuhi rasa penasaran perlahan berubah menjadi rasa bersalah.
"Malas aku mijitin suami yang penis nya loyo kaya dia, Mah," ucap Sonya dengan nada kasar dan mengejek.
Mungkin kamu juga suka : KU NIKAHI JANDA SEMOK ITU
Andi memaksakan seulas senyum tipis sambil menggeleng pelan. Di balik senyum itu, ia menahan rasa malu akibat ucapan istrinya barusan. Menurutnya, Sonya terlalu blak-blakan berbicara di depan Mayang tanpa memikirkan perasaannya sebagai seorang suami. Meski Sonya tidak bermaksud merendahkannya, Andi tetap merasa harga dirinya sedikit terusik.
Sementara itu, Sonya sama sekali tidak menyadari isi hati suaminya. Setelah memastikan kondisi Andi baik-baik saja, ia menguap pelan lalu berkata,
"Ya udah, Mas. Ayo kita tidur. Aku capek mau istirahat."
Tanpa menunggu jawaban, Sonya lebih dulu berjalan menuju kamar mereka. Langkahnya perlahan menghilang di balik pintu, meninggalkan Andi dan Mayang yang masih berdiri berhadapan di depan kamar.
Sesaat suasana menjadi hening. Andi hanya menundukkan kepala, sementara Mayang menatap menantunya itu dengan tatapan lembut, seolah memahami gejolak yang sedang berkecamuk di dalam hati pria tersebut.
Keesokan harinya, Andi terbangun lebih awal dari biasanya. Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian kerja, ia langsung berjalan menuju ruang makan. Wajahnya terlihat terburu-buru, seolah tak ingin terlambat berangkat ke kantor.
Berbeda dari hari-hari sebelumnya, pagi itu Andi sama sekali tidak menyentuh sarapan yang telah disiapkan. Ia hanya meraih tas kerjanya, lalu menghampiri Mayang yang sedang berada di dapur.
"Mah, Andi berangkat dulu ya. Takut telat masuk kantor," pamit Andi.
"Tunggu sebentar, Andi," sahut Mayang sambil mengambil sebuah gelas dari atas meja. "Minum ini dulu sebelum berangkat."
Andi menerima gelas itu dan memperhatikan isinya yang berwarna kecokelatan.
"Ini apa, Mah?" tanyanya penasaran.
"Jamu. Bagus buat menjaga stamina dan bikin badan lebih segar." jawab Mayang sambil tersenyum.
Andi mengangguk pelan, meski masih sedikit ragu. Belum sempat ia meminumnya, suara Stella yang sedang menikmati sarapan di meja makan tiba-tiba menyela.
"Emangnya stamina Mas Andi jelek ya, Mah? Sampai harus minum jamu segala?" tanya Stella polos sambil menatap bergantian ke arah Andi dan Mayang.
Mendengar pertanyaan itu, Andi seketika tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya memerah karena malu.
Jangan-jangan Stella juga tahu soal itu... batin Andi mulai diliputi kegelisahan. Berbagai kemungkinan langsung bermunculan di kepalanya, membuatnya semakin salah tingkah. Ia hanya bisa memaksakan senyum kecil sambil meneguk jamu yang diberikan Mayang, berharap dugaan di benaknya hanyalah perasaannya sendiri.
Begitu jamu itu masuk ke mulutnya, wajah Andi langsung berubah. Kedua alisnya berkerut, sementara bibirnya mengerucut menahan rasa pahit yang begitu pekat.
"Hueek...!" Andi spontan menjulurkan lidahnya sambil menahan keinginan untuk memuntahkan isi mulutnya.
"Jamu apa ini, Mah? Kok rasanya pahit banget?" tanyanya dengan wajah meringis, masih berusaha menghilangkan sisa rasa pahit yang menempel di lidahnya.
Melihat ekspresi Andi, Mayang justru tersenyum geli.
Baca Juga : CINTA SATU MALAM YANG MEMBARA
"Namanya juga jamu, pasti pahit. Tapi jangan khawatir, itu dibuat dari rempah-rempah pilihan. Bagus buat menjaga kesehatan dan memulihkan tenaga. Habis ini badanmu bakal terasa lebih segar," jelas Mayang dengan nada meyakinkan.
Tanpa Andi ketahui di dalam jamu itu sudah ia masuk kan racikan dari nenek moyangnya untuk meningkatkan gairah dan durasi di ranjang serta dapat memperbesar kejantanan pria
Stella yang sedari tadi memperhatikan tak kuasa menahan tawanya.
"Hahaha... baru sekali minum aja udah kayak anak kecil dipaksa minum obat."
Andi hanya bisa menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.
"Kalau obat masih mending, ini pahitnya sampai bikin lidah mati rasa," gerutunya, membuat Stella tertawa semakin keras.
Mayang lalu menyodorkan segelas air putih.
Baca juga : ANTARA ISTRI, MERTUA DAN IPAR : PART 3
"Nih, diminum. Biar pahitnya sedikit hilang. Tapi lain kali jangan manja. Jamu begini banyak manfaatnya."
Andi segera meneguk air putih itu hingga tandas. Meski rasa pahitnya perlahan memudar, ia masih bergumam pelan dalam hati.
Andi pun bergegas berangkat ke kantor, sambil membawa bekal yang sudah di siapkan oleh Mayang
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar