MAIN HATI : PART 2

MABA POLOS INCARAN KATING CANTIK : PART 1

PART 1 : HARI PERTAMA

Hari ini adalah hari pertama perkuliahan. Sejak pagi, kampus sudah dipenuhi wajah-wajah baru yang datang dengan berbagai ekspresi. Ada yang terlihat antusias, gugup, penasaran, bahkan sibuk berkenalan dengan teman-teman di sekitarnya.

Seluruh mahasiswa baru kemudian diarahkan menuju aula utama kampus. Ruangan yang luas itu dipenuhi ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan yang duduk rapi sambil menunggu acara dimulai.


Tak lama kemudian, seorang dosen bersama beberapa panitia naik ke atas panggung. Setelah memberikan sambutan singkat dan memperkenalkan lingkungan kampus, mereka menyampaikan sebuah pengumuman penting.

"Satu minggu dari sekarang, seluruh mahasiswa baru wajib mengikuti Masa Orientasi Studi (MOS) yang akan berlangsung selama tujuh hari. Kehadiran bersifat wajib, dan seluruh peserta diharapkan mempersiapkan diri sebaik mungkin."

Mungkin kamu juga suka : ANTARA ISTRI, MERTUA DAN IPAR

Mendengar pengumuman itu, suasana aula langsung berubah menjadi riuh. Beberapa mahasiswa tampak bersemangat membicarakan kegiatan MOS, sementara yang lain mulai merasa gugup membayangkan seperti apa orientasi yang akan mereka jalani. Tak sedikit pula yang berharap bisa mendapatkan teman baru, bahkan mungkin menemukan kisah cinta di masa-masa awal kuliah mereka.

Berbeda dengan Arganta, atau lebih dikenal dengan sebutan Arga. Mahasiswa baru yang dikenal sangat tampan dan memiliki segudang prestasi itu sama sekali tidak memedulikan riuhnya suasana aula. Ketika mahasiswa lain sibuk mengobrol, berkenalan, atau membahas kegiatan MOS, Arganta justru memilih duduk tenang di sudut ruangan.

Sepasang matanya terus menelusuri setiap halaman buku yang berada di tangannya. Sesekali ia membalik lembar demi lembar dengan tenang, seolah keramaian di sekitarnya tak pernah ada. Baginya, membaca buku jauh lebih menarik daripada menghabiskan waktu untuk berbasa-basi dengan orang yang baru dikenalnya.

Sikapnya yang dingin dan cuek membuat beberapa mahasiswa cewk baru diam-diam memperhatikannya. Wajahnya yang tampan dipadukan dengan aura tenang dan kecerdasannya justru membuat Arganta terlihat semakin berkarisma, tanpa ia sadari telah menjadi pusat perhatian banyak pasang mata di dalam aula terutama para wanita.

Baca juga : CINTA YANG TAK SEHARUSNYA TERJDI

Arganta berasal dari sebuah kota kecil yang letaknya sangat jauh dari kampus tempatnya menimba ilmu. Demi mengejar cita-citanya, ia harus merantau, meninggalkan kampung halaman, orang tua, serta keluarga yang selama ini selalu menemaninya. Meski terkadang rasa rindu menghampiri, Arganta memilih bertahan dan fokus mengejar masa depan yang lebih baik.

Beruntung, ia tidak benar-benar sendirian di perantauan. Sejak kecil, Arganta memiliki seorang sahabat karib bernama Baskara. Persahabatan mereka telah terjalin sejak duduk di bangku sekolah dasar dan tetap bertahan hingga kini. Takdir seolah berpihak kepada keduanya, karena mereka sama-sama diterima di kampus yang sama.

Kehadiran Baskara membuat kehidupan Arganta di kota baru terasa lebih ringan. Mereka tinggal di tempat yang sama, saling membantu dalam urusan kuliah, dan selalu ada untuk satu sama lain. Bagi Arganta, Baskara bukan sekadar sahabat, melainkan sudah seperti saudara kandung yang selalu menemaninya melewati setiap suka dan duka selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa rantau.

Setelah kurang lebih dua jam berlangsung, acara penyambutan mahasiswa baru akhirnya resmi berakhir. Seorang panitia menutup acara dengan mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh peserta, sekaligus mengingatkan agar mereka tidak lupa menghadiri kegiatan MOS yang akan dilaksanakan satu minggu lagi.

Baca juga : KESUCIANKU DI RENGGUT AYAH TIRIKU

"Acara penyambutan hari ini selesai. Kalian dipersilakan pulang atau berkeliling kampus untuk mengenal lingkungan sekitar. Sampai jumpa minggu depan di kegiatan MOS. Terima kasih."

Tepuk tangan pun menggema di seluruh aula. Ratusan mahasiswa mulai beranjak dari tempat duduk mereka. Sebagian memilih langsung pulang karena merasa lelah setelah menjalani hari pertama sebagai mahasiswa, sementara sebagian lainnya tampak antusias mengelilingi kampus. Mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk melihat gedung perkuliahan, perpustakaan, taman, kantin, hingga berbagai fasilitas yang nantinya akan menjadi bagian dari kehidupan mereka selama menempuh pendidikan di kampus tersebut.

Suasana kampus yang semula dipenuhi keramaian di dalam aula kini berpindah ke halaman dan setiap sudut bangunan. Tawa, obrolan, dan suara langkah kaki para mahasiswa baru memenuhi udara, menandai awal perjalanan mereka sebagai mahasiswa. 

Di tengah keramaian itu, Baskara menghampiri Arganta yang masih berdiri di depan aula sambil memandangi suasana kampus. Ia mengembuskan napas panjang, wajahnya tampak lelah setelah mengikuti rangkaian acara sejak pagi.

Baca juga : ANAK KU ADALAH ANAK DARI AYAHKU

"Eh, Ga. Gue balik ke kosan duluan, capek banget nih," ucap Baskara sambil meregangkan tubuhnya.

Arganta mengalihkan pandangannya dari gedung kampus ke arah sahabatnya. Ia mengangguk pelan sambil menutup buku yang sedari tadi berada di tangannya.

"Ya udah, hati-hati. Gue masih pengen muter-muter kampus bentar," jawab Arganta dengan nada santai.

"Oke. Jangan kesorean juga, nanti malah nyasar. Maklum, kita masih mahasiswa baru," goda Baskara sambil terkekeh.

Arganta hanya tersenyum tipis.

"Tenang aja. Gue cuma pengen lihat-lihat kampus sebentar."

"Sip, kalau gitu gue cabut dulu."

Baskara pun melambaikan tangan sebelum berjalan menuju area parkir untuk kembali ke kos. Sementara itu, Arganta memilih melangkah ke arah taman kampus. Dengan langkah santai, ia menikmati suasana sore yang sejuk sambil sesekali memperhatikan gedung-gedung megah yang sebentar lagi akan menjadi tempatnya menuntut ilmu selama beberapa tahun ke depan. Hari pertama di kampus itu baru saja dimulai, tanpa ia sadari, sebuah pertemuan yang akan mengubah jalan hidupnya sudah menunggu di salah satu sudut kampus.

Setelah berpisah dengan Baskara, Arganta melangkah santai menyusuri setiap sudut kampus. Sesekali ia mengamati bangunan-bangunan megah yang menjulang tinggi, taman-taman yang tertata rapi, serta mahasiswa yang masih sibuk berkeliling menikmati hari pertama mereka di kampus.

Tak lama kemudian, langkahnya terhenti di sebuah taman yang berada tak jauh dari gedung fakultas. Di tengah taman itu berdiri sebuah pohon besar dengan daun-daun yang rimbun, memberikan keteduhan dari hangatnya sinar matahari siang.

Tanpa berpikir panjang, Arganta berjalan menghampiri pohon tersebut lalu duduk bersandar pada batangnya yang kokoh. Ia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas ranselnya, kemudian mulai membuka halaman demi halaman dengan penuh perhatian.

Kedua telinganya tertutup oleh sepasang earphone yang memutar musik instrumental favoritnya. Alunan melodi yang lembut membuatnya semakin larut dalam setiap kalimat yang ia baca, seolah dunia di sekelilingnya menghilang.

Penampilannya hari itu terlihat sederhana, namun tetap menarik perhatian. Sebuah jaket hoodie berwarna hitam membungkus tubuhnya, sementara masker hitam menutupi sebagian wajahnya, menyisakan kedua mata tajam yang sesekali bergerak mengikuti setiap baris tulisan di dalam buku.

Dari kejauhan, siapa pun yang melihatnya mungkin akan mengira Arganta adalah mahasiswa yang sulit didekati. Padahal, di balik sikapnya yang pendiam dan penampilannya yang dingin, ia hanyalah seseorang yang lebih nyaman menghabiskan waktu bersama buku daripada menjadi pusat perhatian. Tanpa disadarinya, ada beberapa mahasiswi yang diam-diam melirik ke arahnya, penasaran dengan sosok pria misterius yang sejak tadi begitu tenggelam dalam dunia bacaannya.

Di tengah suasana taman yang tenang, hanya terdengar suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin dan alunan musik dari earphone Arganta. Ia begitu larut membaca hingga tak lagi memedulikan keadaan di sekitarnya.

Tiba-tiba...

"Nguuung... Nguuuung...!!"

Raungan mesin motor berkapasitas besar memecah keheningan kampus. Suara knalpotnya yang khas menggema hingga ke setiap sudut, membuat beberapa mahasiswa yang sedang berlalu-lalang spontan menoleh ke arah sumber suara.

Sebuah motor moge berwarna pink metalik perlahan memasuki area parkir kampus. Bodinya yang mengilap memantulkan cahaya matahari, sementara suara mesinnya masih menggeram pelan sebelum akhirnya berhenti di salah satu petak parkir.

Pengendaranya mematikan mesin motor, membuat suasana kembali hening. Namun, perhatian hampir seluruh mahasiswa yang berada di sekitar parkiran kini tertuju pada sosok misterius yang baru saja datang dengan gaya yang begitu mencolok.

Sementara itu, Arganta yang masih duduk di bawah pohon hanya mengangkat kepalanya sekilas karena mendengar suara raungan mesin tersebut. Setelah memastikan tak ada hal penting, ia kembali menundukkan pandangannya ke buku yang sedang dibaca, sama sekali tidak tertarik mencari tahu siapa pemilik motor moge berwarna pink yang baru saja menjadi pusat perhatian kampus.

Next episode selanjutnya


Komentar